Liem Sioe Liong dan Tenaga Kerja Asing

Buku tentang biografi Liem Sioe Liong ini sudah lama saya baca sedikit demi sedikit. Akhirnya saya siap menuliskan soal ulasan buku ini karena pembicaraan semalam dengan partner hidup,  soal tenaga kerja. R mempertanyakan soal etos kerja dan bagaimana etos kerja itu ditumbuhkan.

Rbertanya mengapa tenaga kerja asing sepertinya bekerja lebih keras daripada tenaga dari negeri sendiri sekalipun orang-orang tersebut adalah anak rantau. Saya menarik napas sedikit. Lalu teringat dengan buku ini. Liem Sioe Liong tidak datang dari Indonesia. Seperti kebanyakan orang dari kampung halamannya, mereka semua memutuskan untuk pergi sejauh-jauhnya demi memperbaiki nasib. Liem Sioe Liong berjuang di tanah Jawa (dan akhirnya menjadi penikmat Soto Kudus) dan menjadi salah satu pengusaha terbesar Indonesia di masanya.

Oh ya, kalau membaca buku ini, kalian bisa paham mengapa Liem Sioe Liong dipercaya Soeharto sampai menjadi pengusaha hampir di sebuah lini industri Indonesia ketika itu. Hubungan mereka sudah lama terjalin jauh ketika Soeharto cuma kroco dan Soedwikatmono cuma kulakan sepeda (kalau soal ini memang kebetulan saya membaca biografi si raja bioskop ketika saya masih SD). Kalau kalian punya teman berjuang jaman melarat, maka kalian akan cenderung meminta bantuan dari teman berjuang dulu karena kualitas kerja sudah teruji ketika kalian mulai membangun kerajaan bisnis.

Kalau kawan bergelut saya ini hehehe (Kawan Bergelut adalah kumpulan cerpen karya Suman HS dengan latar belakang Melayu era alm Bapak saya lahir 1933 ahahaha) . Boleh dong mejeng.

Balik lagi ke soal tenaga kerja asing. Saya berkesimpulan bahwa:

etos kerja bukan milik etnis tertentu. Etos kerja dimiliki orang-orang yang kepepet. Kekuatan untuk bertahan kerja semaksimal mungkin dipunyai oleh orang-orang yang gak bisa kembali ke kampung halaman karena memang di sana tidak ada yang bisa dimakan apalagi dikerjakan.

Ketika anak rantau itu masih berkeliaran di ibukota dengan biaya STNK ditanggung orang tua ataupun kalau jadi pengangguran masih bisa berharap ada pangeran (baca: pacar) yang akan menikahi sambil (sekedarnya) coba wirausaha (dengan seleranya; bukan memperhatikan kebutuhan pasar), maka etos kerja itu tidak muncul. Nah sekarang lihatlah orang-orang Indonesia yang mencoba bertahan di luar negeri. Semaksimal mungkin mereka bekerja dan tidak menjadi pengeluh di tempat mereka mencari upah. Selain takut kepada Tuhan, mereka juga takut harus kembali ke Indonesia dan kehilangan semua kualitas hidup yang bisa mereka peroleh di luar negeri. Gak usah jauh-jauh lah ngomongin TKI kerja di Silicon Valley, TKI bisa masuk Google Indonesia saja langsung mengadaptasi cara kerja di sana termasuk di dalamnya cuci piring dan gelas setelah pakai

Lalu apakah etos kerja bisa dilatih? Tentu saja bisa. Seperti proses regenarasi Liem Sioe Liong ke Anthony Salim. Bagaimana jika itu bukan anak sendiri? Bagaimana jika itu karyawan? I Still believe in modelling for Indonesian culture. Not only 1 boss but senior staffs must be the role models. Langkah berikutnya? Saya belum tahu. Sayangnya di buku ini tidak dituliskan bagaimana Liem Sioe Liong mengatasi etos kerja anak buahnya.

NB: Buku ini menjabarkan bagaimana beberapa kerajaan bisnis Salim Group dibangun. Juga ada beberapa pengusaha lain seperti Eka Tjipta, Sudwikatmono dll. Kesimpulannya apa? kesempatan, koneksi dan kerja keras yang membuatmu jadi seorang taipan. Ga kurang dan ga lebih

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s