I Think I am Addicted to Work

Tulisan di bawah ini ditulis 5 Mei 2017. Oktober 2017 menjadi puncak ketika saya berpikir untuk mengakhiri pernikahan saya:

I am workaholic and I seek for help. I really mean it. It has been two months I never publish something new in my blog. It is not because I do not have ideas to write but I manage myself not to write my dark side (nope I am not Star Wars enthusiast). I am addicted to work and my partner only take that as a joke. I do understand that as he is a person with high need in me-time and need to focus in his startup.

There is a consequence in writing this piece of writing. People will judge, gossip and might offer cliche solution (by saying ‘just relax, take a break’ you are truly unemphatic). I can’t find any person to talk about this problem while at the same time I weep a lot because I just want to shut down my brain. I stop thinking about holiday. I wonder whether I keep working to make myself busy or anything else.

22nd May 2017, I finally admit: the reason I keep making myself busy because I cant cope with loneliness. I feel lonely for several times not because I life alone but I believe it is part of my aloof personality. Deep down in my heart, I want to stop from this addiction but I am clueless where to start

kecerdasan-digital

 

Sekarang saya akan melanjutkan tulisan di atas. 3 Juli 2020. Di tengah pandemi (yang dibuat seolah-olah) surut. Saya kembali merasa tidak bisa berhenti bekerja padahal kondisi tersebut sempat hilang setahun belakangan ini. Ternyata saya kembali terjebak dalam kondisi ini karena saya khawatir. Dengan kondisi bahwa saya harus bisa mencukupi kebutuhan saya dan hewan-hewan dari jualan, saya menjadi gentar bahwa tidak bisa membayar semua tagihan. Jadilah saya merasa perlu terus menerus bekerja karena kalau tidak, dapat uang dari mana?

Terjadi perubahan dari yang 3 tahun lalu saya menyibukkan diri karena kesepian, sekarang saya menyibukkan diri karena khawatir jika saya beristirahat, saya tidak bisa membayar tagihan. Benang merahnya buat saya adalah sama:

BEKERJA adalah pelarian setiap kali emosi negatif saya muncul selama beberapa waktu. BEKERJA membuat saya merasa berhasil mengatasi emosi negatif tapi BEKERJA seringkali membuat saya mengalami KELELAHAN MENTAL (burnout)

Vivi – 28 Juni 2020, tanpa ada angin, ada hujan cuma bisa nangis tersedu-sedu di kamar

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s