2020: Kopi Siap Seduh, Hidup Siap Sedih

Sebelum kalian pembaca setiaku langsung khawatir apakah saya sedang membiru ketika menulis ini, maka percayalah saya menulis ini diiringi dengan karaoke dangdut menyambut malam tahun baru dari bengkel Bang Roman. Iya saya nulis sambil jejogetan sekalipun bingung mengapa tahun ini Juragan Empang tidak masuk dalam songlist. Jadi coba simpan rasa ibamu terlebih dahulu sob. Sekalipun banyak langutan, bisa jadi kehidupan jauh lebih bebas menentukan pilihan dan banyak pencapaian dibanding kalian para pembaca yang budiman. Muah muah.

2020 saya rayakan secara istimewa karena ini dekade kedua abad 21. Rentang 2010-2019 saya isi dengan banyak kesalahan. Sekalipun di dekade ini juga saya berani mencoba hal baru di luar kebiasaan seperti makan pete, jengkol, minum jus alpukat, bermain dan berkomitmen.

  • Memasuki 2010 saya penuh dendam,
  • 2011 saya sok-sokan,
  • 2012 saya mencoba jadi pahlawan,
  • 2013 saya mengalami keterpurukan,
  • 2014 adalah sebuah keputusan dengan keterpaksaan,
  • 2015 adalah masa ratapan,
  • 2016 masa tamparan,
  • 2017 masa kelelahan,
  • 2018 baru saya mengubah arah hidup. Untuk pertama kalinya dalam hidup, saya memutuskan keluar dari bayang-bayang.
  • 2019 adalah tahun saya jatuh berulang kali, menertawakannya, dan kembali bangkit.

Rentang tulisan di atas sebenarnya akan lebih mudah dipahami jika saya mentautkan tahun-tahun tersebut dengan tulisan lama saya yang berkaitan dengan topik tersebut. Namun karena keputusan dengan hikmat kebijaksaan marifat, 100 tulisan sudah hilang dari blog ini.

Seperti saya bilang bahwa 2018 saya mulai keluar dari bayang-bayang. Maka 2019 ini saya mulai berani untuk memilih apa yang sebenarnya mau saya kerjakan. Tidak lagi saya mengiyakan sebuah keputusan hanya karena sungkan atau merasa tidak ada pilihan. Saya sudah memetik akibat dari mengikuti keputusan yang saya enggan setujui tapi tidak berani mengutarakan.

2020 adalah awal dari dekade kedua sekaligus awal dari babak terakhir hidup saya. Percayalah, saya bukanlah orang yang berminat hidup selama-lamanya di bumi ini yang indeks udaranya menguji kekuatan paru-paru. Tahun depan dalam beberapa minggu saya akan genap 36 th. Awal usia untuk babak kedua sekaligus babak terakhir hidup.

Saya telah menyelesaikan satu babak hidup pertama dengan kekacauan di sana sini dan beberapa momen hidup yang saya ingat persis sebagai penyesalan dalam hidup (2004 dan 2014). Saya telah mengisi sebagian besar kehidupan babak pertama hidup dengan terlalu takut bicara dan hanya bisa meletupkan kejujuran perasaan saya lewat tulisan di blog.

Untungnya di akhir babak ini, saya telah berubah menjadi orang yang bisa menyahuti dengan tenang orang-orang yang asal bunyi kepada saya. Tentu ada orang di bumi ini yang saya masukkan daftar klien sehingga setiap perkataan mereka selalu saya sepakati saja biar cepet orang tersebut berlalu.

Babak pertama hidup (alias 35 tahun pertama kehidupan), saya berpikir dengan taat kepada Tuhan, maka saya terjamin, lalu sepuluh tahun terakhir dari babak tersebut, saya bertemu dengan orang yang lebih banyak mengajar saya tentang Tuhan daripada ratusan kebaktian yang saya hadiri.

Saya pun akhirnya siap memasuki babak terakhir hidup menyauh kehidupan rohani saya tanpa riuh ritual persekutuan, sesuatu yang tidak pernah saya bayangkan sebelumnya. Apakah di babak terakhir ini (35 tahun terakhir kehidupan) saya akan kembali bersekutu dalam ibadah bersama? Mungkin iya, mungkin tidak.

Sebagai awal dari babak terakhir, saya bersyukur bahwa saya akan memulai 2020 dengan damai. Saya belajar 1 hal, apapun yang akan terjadi, saya harus selalu siap sedih. Namanya juga hidup. Memberikan ruang untuk patah hati, kecewa, marah dan iri hanya membuat saya yang notabene depresif ini menjadi manusia yang santai menjalani hidup. 2020 selalu akan ada hal yang bisa membuat saya terpuruk. Namun hal tersebut seharusnya bukan hal terburuk dalam hidup. Terima kasih untuk Filosofi Teras yang sudah mengingatkan saya kembali soal ini.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s