1 Dekade: yang Saya Butuhkan Ternyata Bukan yang Saya Inginkan

Judulnya sudah cukup membingungkan belum? Harusnya sih ya. Biar sesekali kaya judul buku sastra Indonesia yang satu per satu diangkat ke layar lebar gitu loh.

Mari memulai tulisan ini dari kicauan Pak Mantris yang menanyakan di Twitter, apa sih Indonesian Dream? Ini gara-gara Biden Harris akhirnya menang lalu kembali ke romantisme American Dream itu loh. Ini kurang lebih jawaban warganet Twitter untuk Indonesian Dream:

Saya juga dulu begitu. Ngebut lulus sarjana 3.5 tahun dengan harapan punya cukup waktu melajang dan bekerja lalu menikah dan jadi ibu rumah tangga sambil syukur-syukur bisa nyambi praktek psikolog. Itu yang saya yakin saya inginkan ketika usia saya 18 sampai 21 tahun ( era 2004-2006) dan taruhan bakpao terenak se-Depok, itu masih menjadi mimpi 90% perempuan Indonesia usia 18-21 tahun di tahun 2020. Bahkan saya menduga sampai 2040 persentase tidak akan berubah banyak. Namun untuk 2040 saya tidak mau taruhan bakpao.

Mengapa capek-capek kuliah di UI, cita-cita jadi ibu rumah tangga? Well kamu butuh jawaban apa? Jawaban keren seperti ‘loh kamu menganggap remeh ya peran ibu rumah tangga? Ibu rumah tangga yang sekolah tinggi kan akan menghasilkan anak-anak yang cerdas juga?‘ Atau jawaban dari lubuk hati terdalam saya, ‘ya lebih gampang kan buat gue atur duit cukup-cukupin gaji lakik daripada gue kudu berambiysi mengejar karir dsb dst. Membangun keluarga kan dapat ponten surga‘.

Seperti kebanyakan pasangan, perayaan 10 tahun sudah tidak menjadi perhatian. Antara sudah tidak ada budget atau karena kesibukan. Saya hanya memberikan kue sus untuk R dan membeli rhum ball untuk diri saya sendiri di hari jadi kebersamaan kami selama 10 tahun ini.

Vivi berencana, Tuhan bercanda ternyata memang beneran benang merah kehidupan saya. Bayangkan saya yang gelayutan di pohon sekolah SMP Strada Marga Mulia mengkhayalkan jadi psikolog, lalu di tahun 2002 saya beneran diterima di FPsi UI, tapi saya tidak pernah jadi psikolog sampai sekarang. Jika dulu saya menangisi hal itu, sekarang di tengah pandemi, saya sudah berdamai bahwa saya belum bisa jadi psikolog.

Begitu juga urusan pernikahan, Tuhan bercanda. Awalnya saya tidak tertarik dengan candaan Tuhan. Saya sempat terus menerus menyalahkan ide Tuhan dalam hidup setiap kali saya gregetan dengan partner hidup. Entah berapa kali dalam hati di masa itu saya bilang ke Tuhan, ‘seriusan Tuhan, model kaya begini nih dikasi ke pipih? Pipih loh ini Tuhan. Nak baek dari jaman sekolah minggu loh? Halo? Tuhan? HALO CALL CENTRE 777?

Pernah juga ada masa tergelap yang mana saya tidak bisa berkata-kata. Tidak marah-marah juga. Saya diam lama. Baru saya tahu saya terendam dalam depresi dengan menutupinya dalam kesibukan lalu berakhir ‘kalau cuma begini doang, gue mengundurkan diri aja dari istri lu‘. Bagus bener yak kayak ngemeng ama HRD.

Ternyata hanya dengan pernah mengalami keterpurukan, kebabakbeluran nyaris di titik nol, hubungan ini justru bisa melenting kembali menjadi lebih kuat dibanding awal mulai. Ya memang tidak ada lagi kopulasi tiap hari ciri orang menggebu tapi juga tidak ada ganjalan dalam hati karena diskusi yang tidak ada titik temu.

Jika mengikuti Indonesian Dream di atas, maka dari segi linimasa, saya sudah jauh terlambat. Dari segi pendapatan maka jelas tidak stabil dari pasangan wirausaha. Dari segi anak, ya belum ada. Namun dari segi kualitas hubungan, saya bisa proklamirkan kami adalah juara.

Tidak ada resep istimewa sebenarnya. Kami adalah dua orang yang sama-sama keras kepala tidak mau mengalah jika itu urusan yang menyangkut keahlian kami masing-masing. Namun kami berdua juga saling rendah hati untuk diam sebentar dan belajar menempatkan diri di posisi pasangan.

Dua kondisi ini belum tentu berhasil jika kami berpasangan dengan orang lain karena belum tentu ada pasangan yang cukup tabah mengikuti rima kehidupan wiraswasta ataupun pasangan yang sanggup terlibat dalam diskusi yang membutuhkan dua hal di bawah ini:

Mengutip kata-kata Suci Patia, di dekade-dekade berikutnya, yang membuat kami lebih sehat bagi satu sama lain adalah karena:

Akhir kata, ternyata lewat becandaanNya, Tuhan lebih tahu apa yang saya butuhkan dan itu bukan Indonesian Dream. Tuhan tahu saya lebih membutuhkan petualangan kumplit dengan tantangan yang memberikan pencerahan. Tuhan pun ingin mengajarkan bahwa di tengah segala kekurangan menurut kacamata dunia (kurang anak, kurang uang, kurang rumah) untuk saat ini :

Melalui tatapannya aku tahu, aku sudah berkecukupan.

Viviong 2020

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s