Balada Kontraktor

Sejak 2011 menjalani hidup sebagai kontraktor (baca: pengontrak), saya rasa sudah saatnya berbagi sisi cerita yang mungkin orang tidak mengalaminya. Tepat 10 tahun sebagai kontraktor. Yipee.

Margonda

Di tengah bangsa yang menerapkan salah satu standar sukses adalah punya rumah sendiri, saya sempat bertahun-tahun minder dan patah arang karena mengontrak. Pengalaman ngontrak saya di Margonda. Tahun 2011 sampai 2013. Panas minta ampun karena belum mampu beli AC. Ditambah lagi lantai bawahnya adalah restoran dimsum yang tentu saja dapurnya tidak pernah berhenti mengkukus.

Di Margonda ini saya selalu serba tegang. Tetangga sate padang yang sering menerapkan kekerasan dalam rumah tangga, genk motor yang sering berakhir pukul-pukulan di jalan, motor saya hilang dsb dst. Saya kesepian sekali ketika itu.

upik

#PinggirPasar

2013-2015 saya pindah ke tempat lebih kecil dan dekat pasar. Sangking katronya drainase bangunan, saya beberapa kali kebanjiran sekalipun cuma semata kaki. Menangis dan mengasihani diri sendiri adalah kunci. Kebetulan di tempat ini saya merintis Rumah Steril sehingga punya AC beli bekas ke Pak Ikhsan yang selanjutnya jadi kolega erat saya dalam urusan pendinginan ruangan dan kelistrikan.

siap antar kucing untuk diadopsi

Saya masih ingat setiap kali hujan saya selalu was-was takut kebanjiran. Saya juga harus siap ketika bunyi klakson kereta terdengar panjang artinya ada orang yang tertabrak kereta. Oh keseharian dilintasi truk ayam, truk sampah dan jadi target orang buang kucing juga sudah menjadi sarapan sehari-hari saya.

Namun di kontrakan ini saya mengenal Mas Sabri asli dari Aceh. Sama-sama hidup sendiri di kontrakan. Sama-sama merintis usaha. Sama-sama berbagi halaman dan cerita. Mas Sabri lah yang mendukung saya mengadopsi Goofy, anjing pertama saya. Menurutnya itung-itung menjadi penjaga kami dari orang berniat jahat. (Pada kenyataannya Goofy pernah mau diculik lapo yang kebetulan juga tetangga kami ketika saya ketiduran..)

Sekalipun tempat itu kecil mungil, saya merasa gang Kedondong mengajarkan banyak hal. Sebagai manusia yang datang dari kaum menengah ngehe dengan pola pikir : kudu-piknik-biar-segeran, saya belajar bahwa orang-orang di sekitar saya bisa tetap menikmati hidup sekalipun piknik mereka cuma 1x setahun: Pas Lebaran.

Mereka selalu bangun lebih pagi dan tidur lebih larut dari saya tapi penghasilan mereka tetaplah minimal. Saya belajar bahwa kerja keras yang didengungkan sebagai kunci sukses kaum menengah ngehe itu ilusi. Perangkap kemiskinan tidak akan saya ketahui kalau saya tidak pernah hidup di pinggir pasar. Di situlah saya mulai bersyukur, rumah saya di Pasar Minggu dijual dan saya keluar dari zona mapan.

Saya juga senang bahwa sambil merintis usaha, saya tiap hari ke pasar untuk jalan kaki bekerja mengajar bahasa Inggris di ITC. Pokoke saya senang sekali karena punya tetangga yang gayub.

Namun 2015 saya tidak diijinkan melanjutkan kontrak di situ karena kios tersebut mau digunakan anaknya berjualan. Saya sedih sekaligus panik. Saya sebenarnya bukan orang yang bisa mudah beradaptasi setiap kali pindah. Lalu dibantu alm Lek Pur penjual bakso, saya menemukan rumah di Beji

Beji

Rumah di Beji ini selalu berganti pengontrak setiap tahunnya. Begitulah cerita yang saya dapat dari tetangga. Saya was-was sekali jangan-jangan rumah ini banyak masalah sampai tidak ada yang betah. Saya masih ingat sebenarnya tidak punya uang untuk pindahan. Untunglah ada seorang teman yang membantu. Dengan 1 truk dan 2 pickup, saya pun pindah.

di tahun 2015, tempat yang saya tinggali ini masih sepi. Awal saya tinggal di sini, sudah tidak ada kendaraan berlalu di atas jam 7 malam. Pelan-pelan saya mengenal satu per satu tetangga dan saya sering menghabiskan waktu sendiri karena ketika itu Ramot sering tidur di kantornya di Pesona Khayangan.

Setiap memasuki September, saya selalu berdoa agar boleh tetap tinggal di rumah ini. Saya menyayangi rumah ini seperti rumah saya sendiri. Saya tahu stereotipe pengontrak adalah cuma bisa meninggali tidak bisa merawat. Namun saya memilih mematahkan stereotipe itu. Drainase dan septictank adalah hal yang sangat saya perhatikan. Bisa dibuktikan tempat saya ini saya usahakan rutin dicat dan tidak ada bocor. Tak lupa melengkapi rumah ini dengan biopori.

2015-2017 rumah ini cuma jadi saksi bisu heningnya keseharian saya. Tentu bayangkanlah sepi tersebut diiringi oleh musik dangdut dan jingle Bens Radio yang tak pernah berhenti mengalun dari bengkel depan kontrakan, warteg yang sedang mempersiapkan makanan, atau tetangga yang malam-malam karaokean. Saya yang tadinya 27 tahun hidup di komplek perumahan nyaris hening, justru jadi terhibur dengan setiap bunyi-bunyian dari tetangga. Sepi itu setidaknya bernada gambus melayu. Bukan cuma hembusan angin.

Ketika 2017 mulai ada kesibukan berjualan. Tetangga sekeliling juga mulai membuat usaha. Lalu ketika 2018 Ramot keluar dari kantornya dan akhirnya tinggal di rumah, barang mulai terisi dan rumah tak lengang lagi.

Sejak 2019, rumah ini juga menjadi kantor untuk beberapa karyawan. Memang tidak sempurna untuk jadi sebuah kantor penjualan dan produksi tapi saya senang bahwa jauh sebelum menjadi tren, saya sudah WFH secara paripurna hehe.

Persiapan IIPE 2018

Saya ingat tahun lalu, 2020, ketika pandemi pertama dimulai dan Ramot di-phk, saya rasanya tegang sekali meminta keringanan berupa harga kontrakan tidak naik dan bisa dicicil. Luar biasa diijinkan. Saya plong

Tahun ini kembali mukjizat terjadi. Ibu pemilik rumah menawarkan untuk kembali tidak menaikkan harga sewa dan boleh cicil. Padahal saya sudah terlalu malu untuk menanyakan apakah bisa harga sewa tetap sama. Sejujurnya saya terharu sekali bahwa Ibu Sri menyadari dagang di tengah pandemi benar-benar mengandalkan mukjizat setiap hari.

Saya tidak tahu dengan kalian di luar sana, setiap kali saya dinyatakan boleh tetap tinggal dan membayar cicilan pertama kontrakan, saya selalu mengucap syukur bahwa saya masih diberi kesempatan untuk menjadikan tempat ini sebagai tujuan saya pulang.

Kata favorit saya adalah PULANG. Bertahun-tahun saya berpikir untuk PULANG saya perlu punya RUMAH. Sekarang saya paham, PULANG bukan soal kepemilikan bangunan. PULANG adalah soal memiliki tempat kita kembali setelah berjuang seharian dan BILANG : ‘aku sudah BERJUANG hari ini dan aku bersyukur bisa PULANG’

Viviong 2021

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s