Ketika Cita-cita Disapa Realita

Soal cita-cita saya bukanlah orang yang banyak meminta. Saya cuma ingin jadi psikolog dan cita-cita tersebut sudah ada sejak usia 14 tahun. Usia ketika sebagian besar remaja ibukota tidak tahu memilih apa. Ketika saya SMA (tahun 2002), hanya 3 orang yang memilih Psikologi UI. Satu teman saya sudah menjadi Doktor Psikologi dengan fokus Psikometri (sebuah bidang di Psikologi yang saya sukai), satu psikolog klinis dewasa, satu ya saya tidak menjadi apa-apa di bidang Psikologi.

Saya pikir ketika saya sejak SMP sudah tahu mau jadi apa, maka alam semesta menyertai. Ternyata tidak. 2020, usia 36 tahun, saya perlu menerima realita menjadi psikolog itu tidak pas dengan nyatanya sehari-hari saya. Tahun lalu saya masih ingat, jika ditanya soal cita-cita ya saya dengan mantab dan air mata menjawab jadi psikolog. Iya sampai tahun lalu saya masih mewek karena saya tidak ada uang untuk jadi psikolog. Tentu semata-mata itu terjadi karena hidup saya itu seputar:

Rutin punya utang, jarang megang uang

Vivi Alone

Sampai kemudian pandemi datang. Maret 2020 adalah titik nadir usaha karena pandemi. Ditambah PHK seseorang. Saya cukup beruntung saya peka dengan hati nurani. Ada beberapa langkah yang saya ambil ketika itu sehingga bisa membantu usaha. Salah satunya adalah saya berhenti bercita-cita jadi psikolog. Lah apa hubungannya?

Dari angan belajar S2, jadi belajar berkendara

Vivi ALone

Di tengah pandemi, saya akhirnya memutuskan energi saya untuk belajar s2, sebaiknya digunakan untuk belajar berkendara. Pandemi semacam membukakan mata bahwa saya perlu berhenti memikirkan cita-cita dan mengalihkan energi saya untuk menjalankan usaha tanpa 100% energi, usaha ini tidak akan kemana-mana sementara tinggal ini sumber bahagia. Anak tak ada, hartapun tak ada. Apalagi kalau bukan usaha?

Saya lalu memilih belajar nyetir. Mengapa belajar mobil? Sederhana sebenarnya. Hal yang bisa saya lakukan sekarang adalah dagang dan saya perlu bisa mandiri menyetir mobil ke mana-mana angkat barang. Saya selalu bisa dapat bantuan untuk gotong karung, tapi saya tidak bisa tergantung kepada manusia hanya untuk menyetir mobil. Saya masih tetap pedagang yang tidak baca laporan keuangan, tapi setidaknya saya masih punya asa untuk melatih motorik saya berkendara.

Belajar mobil saya sebenarnya masih angot-angotan karena selalu saja ada yang bersedia menyupiri tapi setidaknya kemampuan saya jauh lebih baik dibanding sebelum belajar mobil. Saya pun sudah menyiapkan tandem. Sama-sama ga lancar bawa mobil tapi setidaknya kami bisa saling mengisi jika harus menembus ibukota berdua.

Jika sebelumnya saya bisa ujug-ujug usap air mata, sekarang saya sudah biasa saja. Gak tergapai cita-cita itu biasa. Dulu ketika kita kecil, kita dicekoki jargon gantungkan cita-citamu setinggi langit tapi lupa mempersiapkan ketika cita-cita tak kunjung jadi nyata, jangan sampai menjadi pahit.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s