Tidak Ada yang Salah dari Menyerah. Semuanya Terserah!

Tulisan di bawah ini adalah tulisan tahun 2016. Tahun di mana ada sebuah peristiwa traumatis terjadi pada saya, sok-sokan merasa tidak perlu ke profesional karena merasa lulusan psikologi. Berakhir, 4 tahun setelah tulisan ini dibuat, saya konseling ke Psikiater selama dua tahun. Anda sebagai pembaca akan melihat ini sebagai tulisan November 2022 karena sistem WordPress tidak menampilkan 2016. Koq gitu? karena tulisan yang ditulis dengan huruf miring pernah saya simpan sebagai draft sebab saya di masa itu ngambek merasa semua tulisan saya salah. Tulisan di 2016 ini kembali tayang dengan beberapa masukan baru dan editan baru di 2022. Ini untuk menunjukkan bahwa individu itu dinamis. Hanya karena saya dikenal sebagai orang yang bereaksi £¢€¥ di masa lalu, bukan berarti saya bereaksi hal yang sama. Diulang ya :

  • Huruf miring adalah tulisan dari 2016
  • Huruf tegak adalah tulisan dari 2022

Sebuah Mukadimah 2016:

Entah bagaimana orang menggunakan jargon Jangan Menyerah tiada henti seperti seolah-olah menyerah itu salah, menyerah itu kalah, menyerah itu payah. Orang sering lupa ada investasi emosi yang besar untuk bertahan dan tidak menyerah. Tiap individu punya kapasitasnya sendiri mau seberapa jauh bertahan dalam sebuah usaha. Mahluk hidup lain yang tidak menjalani seharusnya cukup bertugas memberi dukungan dan semangat secukupnya tanpa perlu mengucapkan ‘Jangan Menyerah’

Ini tulisan refleksi 12 tahun. 2004 menjadi titik tolak saya memandang hidup. Ketika itu saya pernah mengucapkan ‘Jangan Menyerah’ kepada alm bapak yang berjuang melawan stroke. Sekarang saya paham, itu adalah tindakan teregois yang pernah saya lakukan dalam hidup. Saya tidak di posisinya yang terkapar dan bertahan hidup. Saya seharusnya bilang ‘Lakukan apa yang membuatmu paling nyaman dan bahagia’ dan mungkin ketika itu alm bapak meninggal dengan tenang tanpa harus menghabiskan waktu 2 minggu di ICU..

Pada tahun 2022, bulan September ketika saya harus mendampingi ibu saya drop, inilah yang akhirnya saya ucapkan : lakukan apa yang paling mamak rasa nyaman. Ibu saya memilih pamit dari dunia ini. Lanjut nih balik ke tulisan 2016:

Dua tahun kemudian (2006) saya lulus kuliah dan menerima kenyataan hidup bahwa sebesar apapun keinginan saya untuk memperoleh beasiswa, saya lebih sering menerima surat penolakan daripada titik terang. Orang bisa bilang ‘Jangan Menyerah. Tetap nyalakan api semangat’ ala mantan agen asuransi Singapura yang sekarang kembali ke Indonesia untuk  jadi… motivator pujaan kawula muda. Namun orang lupa, ada banyak hal yang ditaruh untuk kembali mencoba dan meneruskan sesuatu yang tidak menunjukkan titik terang.

Untuk tidak menyerah, orang perlu dengan riang menjalani hidupnya dan dengan santai mengeluarkan biaya untuk memperoleh apa yang ia inginkan. Saya mungkin terlihat gampang menyerah soal lanjut S2 dan masih banyak mimpi lain yang banyak saya tutup rapat. Namun cuma saya sendiri yang tahu kapasitas kewarasan apakah saya mau terus menerus mengusahakan sesuatu atau berhenti saja.

Saya ingat tulisan di tahun 2016 saya tulis sambil menangis tersedu-sedu sendirian di kontrakan. Mengapa? Saya sadar saya perlu menyerah soal mimpi saya di tahun 1998 yang ingin jadi psikolog karena keadaan keuangan memang tidak memungkinkan. Memang masa dari 2015 sampai 2017 saya hidup sendirian di Beji bonus di 2016 ada kejadian traumatis yang perihnya tidak pernah hilang tapi setidaknya sengatannya tidak setajam dulu. Jadi tulisan saya segelap-gelapnya arang yang patah.

Sebenarnya di tahun 2016 saya sudah menyadari tuh, untuk bisa bangkit dan bangun lagi perlu bisa merasa riang. Sebuah kondisi emosi yang tidak ada di saya ketika itu. Saya ini baru bisa riang seutuhnya awal 2022. Bahkan tahun pertama saya ke psikiater saya belum bisa seberapa riang dan tenang karena terbukti Desember 2021 saya terisak-isak lagi. Untungnya terisak-isak untuk akhirnya beneran lepas landas keluar dari rasa mengasihani diri sendiri.

Nah sekalipun sejak 2016 saya menyadari bahwa tidak bisa melanjutkan S2 Psikologi, saya selalu menangis jika membahas hal ini. Artinya menyerah saya sebenarnya belum ikhlas. Salah satu anggota keluarga saya ketika itu (dan sampai sekarang) bilang : uangnya ada! Lu aja yang orientasinya berubah. Saya gak terlalu minat berdebat panjang lebar dengan orang yang oral fixationnya ngomong nyamber melulu (Jiah Vivi.. katanya anti teori Freud koq ini ngutip Freud?). Mengapa saya tidak mau berdebat? Satu saya memperoleh ketenangan hidup dari menghentikan diskusi. Lagian jelas koq oret-oretan utang lebih baik dibayar dulu daripada ambil S2 Psikologi plus ambil S2 Digital Marketing. Loh loh koq jadi banyak? Lah iya. Saya karena sejak 2012 bontang banting ganti profesi akhirnya keilmuan saya lumayan banyak walau ga jago-jago amat. Kebetulan saya kan anaknya rajin belajar jadi saya yakin betul bisa babat itu semua master. Otak mah ada. Dana IMF (ibuk, mertua, family) yang ga ada.

Di tahun 2022, setelah hampir dua tahun di psikiater dan rajin minum obat tak jemu-jemu, saya ikhlas bahwa harapan saya melanjutkan S2 dan jadi Psikolog semakin gelap berkabut. Saya menerimanya dengan iklas dan riang gembira. Nyatanya ketika ada orang yang mengabarkan bahwa dia diterima kuliah Psikologi di luar negeri jalur LPDP (Langsung Punya Dana Papa), saya bisa mudita (menurut Kamus Bahasa Indonesia, mudita itu artinya ikut berbahagia atas kebahagiaan orang lain). Sesuatu yang muskil terjadi di era saya 2016-2019. Orang lain mungkin tidak menyadari ini, tapi ketika sekarang setelah berobat ke psikiater saya bisa benar-benar mudita, bisa ikhlas, bisa berpasrah, saya jadi ingat lagu dari kaset kumpulan lagu sekolah minggu yang saya suka dengarkan di rumah.

Tulisan di bawah ini balik ke 2016 ya:

Akhir kata, tidak ada yang bisa mengukur kapan harus menyerah kapan harus ngeyel maju. Cuma diri kita sendiri yang tahu. Orang lain di luar sana bisa seenaknya komentar ‘ih koq gampang menyerah. doa dong minta kekuatan dari Tuhan. Percaya saja’. Sayangnya mereka bukan bantal yang malam-malam kita peluk, kita tangisi dan kita ileri ketika kita terkapar pasrah.

Tukang Pet Jek
2016 cita-cita psikolog, realita ojek kucing

Grit

Jadi era 2016 ketika saya membahas soal menyerah, adalah era yang sama ketika buku Grit hasil riset Angela Lee Duckworth melambung tenar. Grit ini mengingatkan saya ketika kuliah baca buku soal Adversity Quotient. Ya biasalah orang kalau gak bisa lanjut kuliah kan kompensasinya masih berusaha mengikuti perkembangan keilmuannya yang terbaru. Namun di 2022 saya berpikir apakah GRIT mendorong individu awam mengalami bias kognitif yang bernama SURVIVORSHIP BIAS?

Survivorship Bias

Grit Quit Grit Quit

Di tahun yang sama Susan David menerbitkan buku Emotional Agility. Sebenarnya tulisan beliau mirip dengan Marc Brackett. Kalau Marc Brackett memang saya akui pemetaan emosinya dan penjelasannya lebih mudah diterapkan di ruang kelas atau ruang kerja. Kalau Susan David aktif di media sosial (Linkedin dan Twitter) jadi pembahasan soal Emotional Agility ini selalu tersegarkan selalu di benak saya #tsah. Bahkan saya diwaro di Twitter #halahHalahHalah

Saya bukan ingin mengecilkan hasil riset Angela Lee Duckworth ya. GRIT itu membantu saya untuk mendisiplinkan pikiran paska lulus dari psikiater. Untuk yang bingung saya sebelum ke psikiater ahlinya menyiksa diri saya sendiri dalam keterpurukan. Pokoke sampai saya melihat diri saya super jelek:

Begini lah saya dulu

Sekarang terinspirasi dari GRIT saya selalu ingat ini:

Ini yang saya terapkan di dalam wirausaha atau kehidupan pribadi saya. Saya selalu coba 2-3x dulu baru kalau tetap kepentok ya udah nyerah. Gimana mau sukses? Gimana mau jadi yang terbaik di bidangnya? Pertanyaan balik saya ‘mengapa harus sukses?’ ‘mengapa harus jadi sempurna di bidangnya?’. Kadang menjadi biasa-biasa saja menjadi hal manusiawi karena toh kita semua baru pertama kali hidup di bumi.

Buat saya selama ketika saya sudah berusaha semaksimal mungkin hari ini dan tidak lupa menyeimbangkan waktu dengan melakukan hal yang disukai + istirahat cukup, saya sudah sukses hari ini. Mengapa? Karena di hari itu ketika saya akhirnya tertidur dan Tuhan panggil saya, saya sudah merasa mempertanggungjawabkan waktu yang Tuhan berikan kepada saya di bumi dengan baik.

Di tahun 2022 ini saya belajar:

Bersukacita ketika akhirnya memperoleh apa yang sudah kita perjuangkan itu kewajaran. Tetap Bersukacita ketika akhirnya menerima kenyataan bahwa harus berhenti cukup sampai di sini buat saya adalah sebuah pencapaian tersendiri.

Vivi Alone 2022

Grit & Parenting

Akhir kata, soal grit ini biasanya lari ke pola asuh. Bagaimana membentuk anak yang tangguh pantang menyerah tanpa berakhir menjadi tiger parenting. Sejujurnya saya merasa tidak berhak panjang lebar menulis soal ini karena saya tidak punya anak. Mungkin jika minat baca di : https://sumonsleeve.com/2019/05/how-to-teach-your-kid-grit-without-becoming-a-tiger-parent-4-minute-read.html

Satu pemikiran pada “Tidak Ada yang Salah dari Menyerah. Semuanya Terserah!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s