Intonasi & Pilihan Kata yang Salah Kaprah

Saya sampai bertanya kepada Tuhan apa yang perlu saya pelajari ketika secara berturut-turut 3 orang dalam 7 hari membuat saya terkaget-kaget. Ada kesamaan dari ketiganya : intonasi bicara yang pongah.

Jadi secara beruntun orang-orang ini menggunakan nada bicara atau pemilihan kata yang membuat orang lain (khususnya saya) terkaget-kaget sehingga dalam hati ingin berbicara : wow merasa paling penting sekali ya anda? Selengkat asik nih? Tentu kepada ke-3 nya selengkat itu hanya terjadi dalam benak saya saja. Selebihnya dengan penuh perhitungan saya berkomunikasi dengan mereka. Iya komunikasi aja perlu berhitung. Ketiga orang ini sebenarnya mewakili 3 tipe tindak tanduk manusia pada umumnya.

Gini Doang, Gue Bayar Sekadarnya Ya!

.Buat saya mereka ini bermental menjadikan orang-orang yang terlihat lemah di sekitarnya cocok dijadikan budak. Instingnya langsung pengen bayar murah kalau perlu gratis. Mereka dengan intonasi bicaranya terkesan memerintah sehingga orang bukannya tergerak menolong malah tersulut untuk mengabaikan. Memanggg orang-orang ini biasanya datang dari kelas ekonomi menengah ngehe dan dari kelompok masyarakat tertentu. Namun kalau dulu mungkin saya agak terintimidasi dengan orang-orang ini karena merasa kere hore, sekarang saya tetap ga semapan mereka tapi cukup ahli menunjukkan komunikasi non verbal ‘saya-tidak-suka-dengan-perilaku-anda-mundurlah-atau-saya-akan-mengaum-habis-ini’ mirip mirip kaya kucing mendesis, saya melihat dengan tatapan tajam tidak berkata-kata sama sekali, bedanya dengan kucing saya mendesis dalam hati.

Oh Aku Berhak Balik Badan. Aku Kan Punya Keluarga..

Sebagai individu yang dibesarkan oleh bapak super profesional, maka saya sebenarnya agak geleng-geleng kepala sama bapak-bapak milenial ini (yoi udah gue gambarin ya orang kedua level usianya kek apa; iyee milenial itu kategori usia manusia yang sekarang udah beranak pinak dan bangga jadi sekrup kapitalis demi cicilan rumah dan biaya sekolah): gak bisa lihat lahiran anaknya nangis, pulang kerja kudu tenggo demi adanya sosok ayah untuk si kecil, gak ada komunikasi dengan kolega di akhir pekan karena waktu untuk keluarga. Wow, anakmu pasti bangga sekali ya.

Alm bapak saya tugas di India ketika saya lahir, pergi ke Bengkulu/ Jambi ketika saya pentas gamelan sekolah, dan tetap terima koleganya dari Jepang yang datang di hari Sabtu. Trus kenapa? Apakah itu membuat beliau kurang jadi bapak? Dia orang pertama yang tahu saya mens, dia yang selalu menunggui saya di pinggir jalan setiap kali pulang les malam selama 2.5 tahun tanpa absen sejak saya mengalami pelecehan. Tentu saja saya gak mengharapkan para ayah di bumi ini melewatkan momen penting anaknya ya. Namun tipe-tipe orang yang tidak merasa bersalah mengoper kerjaan kepada pihak yang belum berkeluarga semata-mata karena dia sudah berkeluarga itu super super belagu.

Orang-orang ini bisa dengan lantang percaya diri berkata-kata, berbicara dengan intonasi saya-lah-mahluk-ideal- selalu menjaga keseimbangan antara kerja dan keluarga. Selamat ya. Ambil pialanya sana. Untuk orang-orang seperti ini, saya bahkan tidak menyediakan celah sedikitpun untuk komunikasi non verbal. Saya langsung pasang di kepala nol respon atas apapun pernyataan dia di masa depan. Gak cucok aza. Dia orang baik untuk keluarga, nusa dan bangsa. Jadi apa lah artinya perlu bisa go along dengan saya kan? Kan.

Apapun Masalahnya, Orang Lain yang Nanggung Salahnya

Ini emang dosa pertama banget manusia sapiens kayanya. Demen banget nyalahin ular lah, nyalahin partnernya lah. Kayanya harga diri dan pakaiannya otomatis terkoyak-koyak kalau mengakui tulus’iya ini kesalahan saya, maaf ya‘. Gak perlu disambung tapi kan.

Nah yang bikin orang pengen slepet balik biasanya disampaikannya pun dengan nada nyolot tanpa dosa. Sekarang saya berempati kepada Tuhan yang langsung tindakannya sik sik hussss sing uadooohhh ae kowe!

Saya saja yang bukan punya segala-gala dan tidak Maha Maha bawaannya pengen dahlah ki sanak pergi aja kita yuk. Jauh jauh ke sini tanggepannya kaya gini. Breketek. Saya paham sih orang yang cenderung menyalahkan orang lain ketika ada masalah karena kepercayaan dirinya akan seketika amblas ketika mengakui kesalahan. Ya belajarlah untuk menerima kenyataan dan langsung merasa tidak berharga. Kita selalu bisa tetap bisa mengakui kesalahan dan bertindak secara perwira.

Itulah ketiga tipe gerombolan yang dimasukin neraka cuma bikin penuh, dimasukin sorga bikin gerah

Vivi Alone 2023

Apakah ketiga perilaku itu bisa berubah? Ya bisa lah. Titik awalnya dimulai dengan adanya kemampuan menganalisis diri bahwa ada yang salah dari tindak tanduknya. Bisa jadi masukan datang dari orang lain. Mungkin awal-awal ada kecenderungan penolakan karena apapun terjadi manusia enggan bercermin diri tentang kekurangannya. Namun ya kembali lagi ke individu tersebut apakah ia ingin menghabiskan hidup di bumi menjadi ganjalan atau menjadi penghiburan untuk orang lain. Saya selalu ingat drakor kesayangan : ini baru pertama kalinya menjalani hidup kita di bumi. Kita selalu punya pilihan mau bagaimana

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s