Belajar Tenang

Sebagai orang yang terlatih kudu sat set wat wet selama 27 tahun maka saya super terseok-seok untuk belajar tetap tenang di 12 tahun terakhir ini. Bayangkan tahun depan saya memasuki Vivi 4.0, sekarang Vivi versi 3.9 masih ada aja revisinya. Lah iya to. Manusia itu terus belajar sampai mati. Kalau dia berpikir belajar cuma sampai kelar sekolah lalu merasa sesudahnya adalah ya-inilah-aku-apa-adanya-dah-ga-bisa-berubah maka sayang aja gitu karena semakin kita belajar dan revisi diri, maka semakin banyak hal indah yang kita jalani dalam hidup ini.

Sat set wat wet ini sering (kalau tidak mau dibilang SELALU..) membawa saya ke dalam keputusan yang tidak bijak karena diambil terburu-buru. Saya njelu njelu (berpikir dalam dalam) apa yang membuat saya merasa perlu secepatnya mengambil keputusan? Akhirnya saya tercerahkan dari cuplikan film ini:

Setiap kali saya kepentok masalah entah itu merasa pernikahan batal, gak dapat pegawai, gak bisa lanjut sekolah, gagal program hamil, reaksi pertama saya pasti : dah lah batal saja. Ternyata setiap kali kepentok saya merasa seperti masuk pasir hisap yang mana saya kecebur pasir hisap aja gak pernah. Cuma nonton di pelem-pelem. Nah, harusnya saya kudunya belajar dari pelem-pelem itu, kalau masuk pasir hisap tenang saja jangan kebanyakan gerak, malah makin kelelep. Sayangnya saya cuma ingat adegan keceburnya tidak pernah ingat solusinya. Akhirnya ya selalu bolak balik panik dan keputusan yang diambil kacau bubrah.

Sama seperti kecemplung pasir hisap, selain solusinya tenang, jalan keluarnya adalah menunggu bantuan orang lain, saya belajar untuk menerima masukan dari orang kepercayaan ketika kepentok jalan buntu. Ketika orang-orang tersebut belum memberikan jawaban entah karena belum baca WA saya atau masih mikir, yang bisa saya lakukan adalah tenang. Untuk saya, cara tenang adalah cari hal lain untuk dikerjakan biar otak saya gak mikirin itu melulu. Semacam menyisihkan masalah dulu lah gitu.

Nah untuk sampai ke titik : oh ini hal yang saya perlu perbaiki nih, biar gak jatuh di lubang yang sama; butuh pencerahan yang entah bagaimana koq bisa sampai di situ? Apa itu dari Tuhan? Apa itu karena masukan dari teman? Atau karena kecerdasan intrapersonal saya? Apapun itu saya belum bisa nemu formulanya sehingga saya sejujurnya belum bisa membagikan tips ke orang-orang dengan kepribadian tipe A (iya orang sat set wat wet ini tipe A bukan B; kudu cari sendiri teorinya di Google ya). Orang-orang seperti saya berakhir memiliki produktivitas tinggi bonus penyakit yang khan maen. Disuruh memelan pasti gak bisaa kalau keinginan ngerem itu gak dari diri sendiri. Namun kalau dibiarin bawaannya bablas nubrak nubruk sana sini. Wis pelik pokoke lah. Semoga satu waktu nanti saya bisa nemu benang merah solusinya. Kasihan orang-orang di luar sana yang seperti saya: selalu frustasi dan sulit tenang bahagia

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s