Memulihkan kesehatan mental itu seperti melakukan perawatan saluran akar pada gigi. Belum pernah? Baguslah! Karena setelah menjalani perawatan saluran akar (P.S.A), mencabut gigi jadi tidak terasa menyakitkan. Bagaimana bisa?? Bukankah mencabut gigi itu adalah tindakan paling mengerikan di mata orang awam? Tunggu sampai kalau kamu divonis P.S.A. perjuangan menahan sakitnya bukan cuma 1 sesi (seperti cabut gigi) tapi berulang-ulang. Mungkin pemakai kawat gigi juga ikutan merasa tidak mau kalah adu menderita menyatakan bahwa pemasangan kawat gigi lebih sakit tapi sebenarnya kan kebanyakan pemasangan behel itu untuk urusan estetika sista.. Sementara P.S.A ya kudu dilakukan..
Untuk sekadar gambaran, P.S.A itu dilakukan dengan tujuan agar ketika gigi kita berlubang cukup dalam tidak perlu dicabut total tapi masih bisa digunakan. Mengapa dokter gigi selalu berusaha gigi kita gak dicabut (kecuali gigi bungsu yang menekan gigi lain)? Karena semakin gigi kita lengkap, semakin panjang umur kita (ini cuma penyederhanaan saja; persisnya tanya dokter gigi kesayanganmu). Itu sebabnya saya peduli dengan kesehatan gigi #Hazek. Nah ketika gigi bolong dan ditemukan sudah sampai ke akar, tentu saja, proses penambalan tidak bisa dilakukan begitu saja. Kawat kecil dimasukkan ke akar-akar gigi kita, mematikan syaraf-syaraf di dalam akar kita lalu baru bisa ditambal.
Hal yang bikin sakit adalah kawat tersebut berulang kali masuk ke akar-akar gigi kita untuk memastikan semua syaraf mati. Memang tindakan ini dilakukan dengan bius lokal tapi tetap rasa sakitnya ada. Beda dengan cabut gigi yang 1 sesi selesai, maka P.S.A ini rata-rata datang 3-4 kali. Sesi kawat-kawat masuk ke akar gigi itu dilakukan sesi 1 dan 2. Sesi 1 sakitnya bukan main, sesi 2 tidak terasa apa-apa, baru deh tambal-tambal.
Begitu juga dengan keinginan memulihkan kesehatan mental kita. Percayalah ketika kita lahir kita kan tidak se-pahit, se-depresif, se-cemas kita sekarang kan? Taruhlah ketika kita kecil, kita sudah cenderung untuk murung dan selalu takut berbuat salah, sebenarnya kan selalu ada sisi lain dari kita yang bisa dipulihkan menjadi lebih ceria dan tidak beracun untuk orang di sekitar kita? Nah sama seperti gigi bolong yang ngilu setiap kali kita mengunyah lengkuas dalam rendang, maka luka batin itu selalu akan kembali terbuka kalau kena pemantiknya. Kadang pemantik bisa sesepele bunyi ventilator di ruang ICU atau melihat notifikasi media sosial. Pertanyaannya adalah seberapa banyak waktu yang kamu mau luangkan untuk pemulihan?
Saya paham betul karena kesehatan mental itu tidak sefatal sakit gigi (tahukah kamu sakit gigi bisa membuat kamu masuk ICU? Saya sudah melihat 3 kasus; 2 orang hidup, 1 orang meninggal. Hanya karena probabilitasnya terlihat bagus untuk bisa kembali hidup, bukan berarti ketika giliranmu terjadi, kamu termasuk yang bisa hidup kembali). Ketika kamu menjalani hidup dengan menenteng-nenteng luka batin, orang tidak akan lihat bahwa kamu sedang babak belur bahkan orang di sekitarmu akan berusaha mencari jawaban rasional atas perilakumu : oh namanya juga sudah tua wajar nyimpen-nyimpen barang gitu, oh namanya juga gen Z wajar kalau mageran gitu ga mau ngapa-ngapain, oh namanya juga laki-laki di keluarga patriarki makanya kalau marah-marah ekstrem gitu. Padahal ketiga contoh di atas sebenarnya ada indikasi kesehatan mental yang tidak ok. Kalau kita demam sedikit saja langsung berusaha berobat (atau setidaknya membeli obat di minimarket), mengapa ketika itu menyangkut kesehatan mental kita tidak melakukan apa-apa?
YAAKKKKK BENARRRRR karena membersihkan dan mengobati luka psikologis itu setara P.S.A tahap 1 dikerjakan di otak kita. Kalau di P.S.A kawat masuk ke syaraf akar gigi, maka dalam pemulihan psikologis, kita membongkar semua pikiran kita yang salah bin ngaco bin berantakan amburadul sengkarut kaya kabel di tiang pinggir jalan. Lebih enak buat kita menenteng-nenteng luka batin tersebut sambil terus menerus menunjuk orang lain sebagai penyebab kondisi kita. Ya mungkin mereka ada kontribusi dalam berbuat kesalahan, tapi di saat yang bersamaan, kita juga bisa memulihkan luka batin tersebut sekalipun orang tersebut tidak pernah meminta maaf ataupun mengakui perbuatannya.
Saya bisa berbicara soal perawatan saluran akar maupun pemulihan kesehatan mental karena saya sudah menjalani keduanya. P.S.A saya jalani 3 kali dan setiap kali menjalani P.S.A sesi pertama saya selalu sedikit menangis karena menahan sakitnya. Kesehatan mental? Wah teruji 1,5 tahun. Sama seperti P.S.A, saya juga menangis di sesi-sesi awal pemulihan jiwa saya sambil bingung sendiri ini koq masalah di kepala saya banyak sekali ya Tuhannn. Toh akhirnya dinyatakan lulus juga.
Saat ini setelah ke profesional di bidang masing-masing, 3 gigi saya masih utuh bekerja baik untuk makan dan jiwa saya bisa tetap tenang teduh di tengah cercaan apapun (sengaja saya tidak tulis di sini detailnya sebagai indikator bahwa perkataan 2 orang di tahun 2025 yang paling menyakitkan buat saya sama sekali tidak menyengat saya hehe.) Saya ada oleng sedikit tapi tidak mengasihani berhari-hari. Sesuatu yang tidak pernah saya lakukan sebelum saya memutuskan mengobati jiwa saya. Begitulah perenungan 2025 saya, selamat mencoba. Gak berubah juga ga pa pa.

Leave a Reply