Saya Suka Makan, Saya Perlu Turun Berat Badan

Selama 36 tahun hidup, saya tidak pernah kurus dan seumur hidup saya tidak pernah susah makan. Baru saya sadari sekarang itu bisa jadi bahagia, bisa jadi sumber bencana.

VIVI. Tinggi badan 158 cm. Usia 36 tahun, Berat badan 69 kg. Usia 22 tahun berat badan saya 55 kg. Usia 18 th berat badan saya 52 kg. Dari rentang 18 tahun, berat badan saya bertambah 1 kg.

Apakah dalam rentang masa tersebut saya merasa ada yang salah dengan kenaikan berat badan seiring pertambahan usia? Sama sekali tidak. Ada dua tabiat saya yang membuat saya nyaman dengan diri saya sendiri:

1. Saya senang menentang orang lain.

2. Saya berhak memberikan hadiah kepada diri saya sendiri setelah saya bekerja tekun. (Baca: Saya pecandu kerja dan tidak ada yang mengapresiasi saya atas itu. yang ada seringan adalah tuntutan agar saya lebih ini lebih itu. Jadi saya memberi hadiah kepada diri saya sendiri dengan makan enak sambil menyeruput kopi panas. Sama seperti candu nikotin, candu kerja pun bisa berbahaya. Akar masalahnya saya tahu. Berobatnya tunggu dulu).

Kembali ke poin 1. Di tengah konsep bahwa ‘untuk-lebih-menarik-ya-perempuan-kudu-langsing‘, saya cenderung melawan arus. Saya tidak pernah merasa perlu langsing demi apresiasi orang. Bahkan ketika pernyataan tersebut dilontarkan oleh terdekat. Saya seneng koq bikin orang terdekat mundur selangkah dua langkah karena saya melawan pendapatnya. Jadi kan kalau orang tersebut akhirnya tidak di hidup saya lagi, saya jadi tidak terlalu sedih. Saya ini sudah terkenal judes, dingin, dan semua atribusi negatif lainnya, mengapa saya perlu repot memiliki atribusi positif berupa: berat badan ideal?

Hal ini berubah ketika awal tahun, saya dan dokter kandungan memutuskan bahwa jalan terbaik menangani myoma adalah operasi. Lah emang apa hubungannya myoma dengan berat badan? JAUH banget sebenarnya. Berikut runut berpikirnya:

Setiap kali steril kucing, saya tahu bahwa dokter hewan seringkali mengalami kesulitan jika kucingnya kegemukan. Proses menembus lemak itu memakan waktu. Untungnya ini mengangkat ovarium jadi tindakan operasi tidak serumit yang akan saya alami. Ketemu ovarium kiri dan kanan, ikat, potong, tutup jahitan, beres deh operasi steril.

Lalu saya? Saya ini usia juga menuju kepala 4, uban sudah ke mana-mana, dengan kondisi myoma masih berharap bisa punya anak. Mengenaskan? Tenang. Saya sudah menertawakan diri saya sendiri sambil menangis selama 10 hari bulan lalu. Itu sebabnya saya bisa menceritakan hal ini dengan santai di sini. Nah dengan kondisi tersebut, maka tidak seperti dokter hewan yang cukup cari rahim dari kucing gembrot, angkat lalu tutup jahitan, dokter yang menangani saya perlu ekstra kerja keras mengangkat myoma tanpa merusak rahim terlalu parah. Memang sih kalau saja bertahun-tahun yang lalu saya sudah punya anak, masalah ini akan beres dengan langsung steril aja. Namun sudahlah.

Nah untuk menambah bumbu derita hahaha, saya ini akan jalur BPJS. Ya kale asuransi asuransian. Namanya juga cuma mbak sis online yang mampunya cuma sampai bayar iuran BPJS KES. Itu aja pernah kelupaan bayar sebulan. Sadar bahwa saya pasien BPJS, saya tidak mau menambah lelah tim medis yang akan menangani saya. Untuk kalian ketahui, honor dokter untuk handle pasien BPJS itu dihargai murah, lalu pasiennya gembrot pula, mau rahimnya jangan rusak-rusak amat pulak demi pengen beranak. Saya bisa bayangkan kalau saya yang jadi dokter udah banyak-banyak nyebut. Untuk itu saya ingin membantu tim medis dengan satu cara yang bisa saya lakukan: mengurangi timbunan lemak.

Dalam proses tersebut, saya ditawari untuk program diet Rp.15.800.000, katering Rp.5.000.000 sebulan atau WRP. Ketiganya saya geleng-geleng. Kombinasi antara sayang uangnya dan bosan. WRP dan program 15 juta itu menawarkan suplemen pengganti makanan. WRP saja cuma sukses saya jalani 2 hari. Untung banget sebelum saya mengambil program 15 yuta tersebut, saya sempat konsultasi dengan Ko Mario. Gimana mau yang 15 yuta. Saya bosan dengan suplemen. Ingat penjelasan tentang saya di atas: saya selalu memberi hadiah untuk diri saya sendiri setelah bekerja tak jemu-jemu. Lalu koq dikasi susu yang tidak selezat Milo di malam hari? Hah? Hah? *banting gelas*

Akhirnya seperti biasa, saya pun mendiskusikan masalah cita-cita mulia saya untuk bisa mengurangi berat badan dengan teman saya yang kebetulan dokter di RS UI. Teman saya ini pun menyarankan saya konsul ke dokter gizi. Ya sudah lah kali ini saya nurut demi tujuan tercapai. Coba duluuu, wooo mana ridho saya urusan makan diatur-atur dengan pergi ke dokter gizi karena buat saya makanan enak adalah hiburan.

Selama konsul via zoom yang cuma menghabiskan uang Rp.175.000, ditemukan pola makan saya cuma gorengan dan kopi. Hahahaa. Eh ini beneran terjadi di saya. Sering alasannya adalah : ga tega ama tukang jualan. Yoii saya sering order makanan selain karena suka, ya ingin bertujuan mulia: menggerakkan ekonomi rakyat. Halahhhahaha.

Dengan jajan, mari kita gerakkan roda ekonomi rakyat

Vivi – 2020

Dokter aja sampai geleng-geleng terus bilang : ‘selain menolong sesama, bukannya ada ayat di Alkitab bahwa tubuhmu adalah Bait Allah‘. Gini gini nih bawa-bawa ayat akik tersulut nih. Hih.

Setelah sesi selesai, yang dijelaskan soal penukar dan porsi akhirnya muncullah file pdf dari dokter tentang menu yang bisa saya konsumsi tanpa ada hari libur. Hih. Bahkan 7 hari dalam seminggu penciptaan bumi, ditulis di Alkitab, Tuhan libur 1 hari.

Ketika menerima file pdf yang kemudian saya print di kertas toko, saya melihat dengan seksama bahwa : hah saya tetep bisa makan di jam saya bisa ngemil? Hah saya boleh bisa makan itu? Bisa makan ini? Wow. Lalu saya membalikkan ke halaman kedua tentang berapa porsi yang harus saya makan.

Bisa makan nasi goreng…tapi cuma dua sendok dan cuma siang hari. Bisa makan mie tapi juga cuma dua sendok makan. Bisa makan durian tapi juga cuma dua potong. Bisa banget makan coklat tapi 70%. Apakah saya terpukul dengan porsinya? Nggak. Sebenernya saya ga makan sebanyak itu tapi sering. Saya justru ingin dengan terbatasnya porsi yang bisa saya makan, maka suapan tersebut harus enak, nikmat, paripurna. Saya pernah banting gorengan karena jatah saya hari itu cuma satu gigitan, lalu yang saya kunyah isi matcha, bukan isi coklat. Itu sebabnya sampai sekarang saya tidak memanfaatkan jatah buah saya dengan makan durian. Ngapain makan durian di masa yang bukan musimnya dan cuma 2 potong? Sudahlah dikit, anyep pulak. Hadeuh. Bener-bener buang kuota banget deh rasanya.

Lalu saya menyadari bahwa saya sering kurang asupan protein harian. Mungkin itu yang bikin rambut saya rontok karena masalah ketombe saya sudah beres. Saya berusaha memperbaikinya tapi ya kadang perut sudah terlanjur kenyang jadi malas ngunyah tempe panggang misalnya.

Pengalaman hari pertama tentu saja kacau. Saya bangun kesiangan sehingga bye-bye sarapan. Saya lanjut cemilan pagi-makan siang-cemilan sore-makan malam. Di antara jeda waktu, saya masih merasa lapar. Saya sibuk mencari apa lagi yang bisa saya makan berdasarkan kertas tersebut. Begitu saya sudah kasi tanda centang jam 18.00, lapar pun akhirnya hilang. Fiyuh.

Jadi kuncinya adalah disiplin makanin semua yang ada di list. Toh pilihannya bisa divariasikan. Kalau di list ada yogurt biokul dua sendok ya udah makan. Kalau ada teh hijau segelas ya sudah habiskan. Kalau jadwalnya makan protein nabati, ya habisin deh tuh kacang rebus. Pasti perut kenyang. Memang tidak sampai begah tapi tubuh sudah mengirim sinyal cukup. Ngapa lagi digas ya kan?

Program makan ini menyadarkan saya bahwa saya bisa cukup dengan setengah combro, bukan 6 combro. Saya bisa makan 1/2 ketoprak dengan sedikit kentang, saya bisa makan sushi cuma beberapa potong saja dan saya bisa makan makanan tanpa santan selama sebulan alias liburan dari nasi kapau. Terus terang pola makan cukup ini membuat pengeluaran jajan jadi hemat karena jatah yang terbatas itu.

Saya bilang ke dokter gizi bahwa saya tidak mau melakukan turut berat badan dengan menderita. Alasannya ya tentu saja poin ke-2 di atas. Cukup dagang saja yang melelahkan tubuh, jiwa, roh saya (sumber saya gila kerja ya ini sebenernya). Diet jangan.

Ternyata memang tidak susah. Sampai malah setelah tiga hari berjalan saya benar-benar mengibarkan bendera putih tidak makan malam karena saya sudah kenyang 20 butir rambutan, 2 suap yogurt, air putih, kacang rebus di sore hari. Jatah coklat yang tadinya adalah solusi saya setiap kali lapar di sore hari sudah tidak saya ambil. Lah wong ga laper ngapa harus ngunyah..

Berat seminggu turun berapa? Cuma sekilo. Diimbangi olahraga HIIT yang cuma 2x seminggu + bawa jalan anjing setiap hari kerja. Namun saya nyaman dengan hasil tersebut karena saya bener-bener tidak tersiksa. Saya jadi dilatih kembali untuk merasa cukup dan tidak rakus. Kopi masih tapi dengan sedikit sekali gula. Mengecap kopi sekarang bagai merasakan karakter saya : panas, pahit dengan minim manis.

Saya akan kembali konsultasi setelah satu bulan untuk membahas kemajuan saya. Lumayanlah sambil nunggu bulan Agustus. Sekalian saya ingin bertanya kapan saya bisa konsumsi santan (eh masih usaha yha..)

Tulisan ini akan bersambung sampai Agustus ketika saya kembali konsul perihal penjadwalan operasi.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s