Sukses

Aduh ini adalah kata yang bertahun-tahun sejak saya lulus kuliah tidak saya sukai. Alias saya sudah bermusuhan dengan kata ini selama 17 tahun. Mungkin karena kata-kata ini sering disebutkan jadi judul seminar atau judul buku mautipesmati (baca: motivasi) atau memang saya merasa perlu beda saja dengan orang pada umumnya: engkau memikirkan bagaimana menuju sukses, aku memikirkan kapan hariku selesai di bumi. Udah gak usah panik. Saya bukan sedang menunjukkan fase ingin mati. Saya cuma lebih terbuka membicarakan kematian daripada sahabat dan kerabat yang anda kenal. Eh tapi ngomong-ngomong sebelum saya membahas kesuksesan, memang kalian gak pernah ya mengalami masa dalam hidup bahwa hari-hari yang kalian jalani itu kurang lebih seperti ini:

Menjelang tidur: Akhirnya 1 hari lagi di bumi kuselesaikan dengan baik. Sudah 14.395 hari ku jalani hidup.
Begitu bangun: Mari kita jalani hari ini. Kurang lebih masih 15.395 hari lagi harus jalani hidup.

Vivi Alone – 2023

Seriusan sepanjang hidup gak pernah begitu? atau pura-pura gak mengalami supaya tidak mencederai perasaan keluarga bahagiamu? OK lanjut. Kan topiknya soal sukses.

Keseharian saya itu suka diisi hitung mundur seperti di atas dan bawaannya jadi gampang terpuruk kalau kata tersebut melintas di kuping saya. Akhirnya saya memutuskan, daripada cuma mendengarkan orang bilang sukses sakses, mengapa tidak dimulai dengan saya yang membuat definisi sukses untuk diri saya sendiri. Mengingat saya ini orang yang haus pencapaian tapi enggan bikin target tinggi, saya buat saja definisi sukses yang mudah saya kasi ponten.

Ada masa dalam hidup saya sebenarnya diam-diam membuat definisi sukses berdasar apa yang saya lihat dari pencapaian orang lain. Ada teman yang abis lulus kuliah, bisa jadi psikolog, nikah, punya anak, punya rumah, saya anggap itu sukses. Ada teman yang berdagang sampai mempunyai banyak toko, bisa cicil rumah, tetap urus anak, saya anggap itu sukses. Akhirnya saya minder sendiri karena dalam urusan punya anak, mereka cuma perlu kopulasi yang biayanya nyaris Rp.0 (mari kita kesampingkan biaya akad dan resepsi untuk menuju momen kopulasi itu ya ki sanak), sementara saya sudah keluar biaya seharga motor cuma dapat *COBA LAGI* bagaikan undian era 90an.

Nah daripada saya sibuk melihat kiri kanan untuk pendefinisian sebuah kesuksesan. Akhirnya saya susunlah definisi sendiri. Pastinya gak bawa bawa soal punya anak. Ingat saya memang suka pencapaian tapi saya enggan bikin target tinggi. Jika untuk memiliki anak itu melibatkan nominal uang yang butuh mukjizat untuk mendapatkannya dan selalu ada kemungkinan *COBA LAGI* maka saya coret saja urusan anak sebagai pencapaian saya.

Jadi ini definisi saya soal sukses:

  1. Lulus kuliah jadi psikolog, magang praktek sampai punya surat izin praktek dan praktek mandiri lalu menyusun sesuatu (belum kepikir sesuatu ini bentukannya apa) sehingga bisa dipakai/ bermanfaat bagi banyak orang yang akhirnya bisa membuat saya memperoleh tambahan penghasilan.
  2. Rumah tangga adem ayem damai sejahtera drama sekadarnya.

Dah gitu saja definisi suksesnya. Jika itu akhirnya terjadi dalam 10 tahun atau dalam 15 tahun saya akan bisa bilang:

saya sudah sukses karena saya sendiri yang bikin definisi kesuksesan saya dan saya bikin yang terlihat gampang saja.

Perkara di posisi saya merasa sukses tersebut gak ada anak, mobil gitu-gitu aja, rumah gitu-gitu aja, ya sudah. Hidup itu cuma sekali, jadi saya merasa tidak perlu banyak yang dikejar. Itu pun prinsipnya : dapat syukur, gak dapat puji Tuhan. Jika leluhur saya bisa baik-baik saja ke liang lahat tanpa pencapaian berarti, saya sudah cukup progresif dengan menetapkan sebuah batasan kesuksesan sebelum akhirnya saya menyusul mati.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s