2022: Mencoba Berbeda

Sesuai tradisi, saya biasanya menulis di 31 Desember untuk kilas balik sepanjang setahun sambil menuliskan harapan di tahun berikutnya. Ada masa-masa saya tidak menulis atau berujung tulisan sudah dihapus karena saya sedang asyik mengasihani diri sendiri.

Namun refleksi tahunan ditulis lebih cepat mumpung saya masih semangat menuliskannya. Untuk yang baru baca, saya menjadikan umur saya yang sekarang sebagai babak kedua. Garisnya di kelipatan 35. Jadi semenjak saya berusia 36 tahun, saya sudah memasuki babak kedua. Sebenarnya saya ingin ini menjadi babak terakhir tapi saya perlu bertoleransi kepada 1 pihak yang merasa saya terlalu cepat tutup buku jika selesai di bumi ini umur 70 tahun.

Awal babak kedua ini penuh pembersihan diri. Dimulai di usia 36 tahun saya menjalani operasi pengangkatan tumor jinak sebesar bakso tenis, lalu dilanjutkan usia 37 tahun membersihkan seluruh luka-luka trauma di ruang psikiater, saya siap menghadapi 2022 dengan lebih damai.

Sungguh 2021 adalah tahun pemulihan dan saya sangat terkagum-kagum dengan diri saya bagai mendapatkan operasi wajah paripurna. Saya jauh lebih ceria, saya jauh lebih tenang, saya bisa menerima semua yang telah terjadi di masa lalu sebagai bagian dari hidup saya dan saya lebih sering tertawa.

Karena sudah sehat lahir batin, saya kembali memikirkan soal punya anak. Alasan saya jelas. Saya tidak ingin ia balas budi dengan mengurus saya di masa tua, saya juga tidak ingin menjadikannya sebuah standar agar dianggap menjadi perempuan yang lengkap. Saya sudah utuh sebelum dia ada. Saya juga sudah mempersiapkan diri bagaimana mengurus masa tua saya tanpa perlu berharap dari anak. Saya hanya ingin membagikan pengalaman/ ide-ide kepada seorang individu. Sehingga anak angkat atau anak kandung bukan masalah. Bagaimana jika anak tersebut memiliki keterbatasan/ berkebutuhan khusus? Biarlah itu dipikirkan nanti. Saya percaya karena saya sudah selesai dengan diri saya sendiri, saya jauh lebih bijak dalam menemukan berbagai pilihan solusi.

Namun perkara mengusahakan punya anak ini mengingatkan kembali ke masa 2014. Sebuah tahun yang BUAT SAYA paling traumatis setelah 2004 (alm bapak meninggal). Ketika itu memutuskan menikah dengan kondisi hidup sehari-hari saja pas-pasan. Bedanya dulu dengan sekarang? Dulu saya membawa luka-luka yang tidak pernah terselasaikan di 2004 dan 2012 masuk gabung campur aduk ke 2014.

2022 jadi berasa 2014 DARI SUDUT PANDANG SAYA, karena ini ada sangkut pautnya dengan :

Bacanya sambil ada nadanya dong!

Saya itu punya kecenderungan bermental pelit kalau urusan kebutuhan pribadi. Berikut adalah contoh kepelitan saya untuk diri saya sendiri demi merasa punya kontrol untuk berhemat:

  • Baju nikah saya pemberian dari klien pindahan dan pinjaman dari teman.
  • Cincin saya pilih yang termurah. (Well, setidaknya masih saya kenakan keduanya sampai sekarang sementara banyak orang sudah menjual cincin pernikahan mereka untuk bertahan hidup sehari-hari. Pembaca sahutin dong: halah bilang aja kalau dijual dapatnya cuma recehan tuh cincin)
  • Ketika memulai usaha, saya bertahan menggunakan printer yang usianya ketika itu sudah 12 tahun.
  • Saya bertahan duduk di kursi kerja yang tidak nyaman selama setahun lebih.
  • Saya bertahun-tahun hanya pakai kipas angin sekalipun punya AC demi menghemat token listrik. Perkara gobyos sering tidur di lantai buat saya ga masalah.
  • Saya selalu beli bolpoint termurah dan pakai buku gratisan sekalipun saya suka mencatat ide di agenda ciamik. Rasanya saya berdosa besar jika menghadiahi diri sendiri dengan bolpoint mahal seperti alm bapak saya dulu yang hanya menulis dengan Parker bukan pilot. Sekarang saya beli yang lebih murah dari Pilot
  • Saya pernah bekerja menggunakan laptop termurah dan akhirnya mati dengan terhormat karena tidak tahan menghadapi cara kerja saya

Seperti ada kepuasan pribadi hidup dalam kondisi mengirit-irit padahal nelangsa. Senang aja bergelimang dalam mengasihani diri. YUP. SAYA SENGAJA NGIRIT LALU konsisten meratapi diri. Ga usah bingung wis. Toh saya sudah konseling ke psikiater inih.

Untunglah kebiasaan ini pelan-pelan tergerus karena saya sudah tidak sendiri lagi. AC mau ga mau menyala, segala rupa barang dengan teknologi seperti laptop, printer, HP harus berdasarkan standar kelayakan partner. Beliau sebenarnya masih sedikit terganggu dengan saya yang jor-joran pakai HP Cina untuk nulis di WordPress, edit video dan baca buku di Kindle. Cuma komentarnya hanya saya tanggapi dengan anggukan ala orang Jawa: nggih nggih, mboten dilakoni. Selebihnya sudah sedikit celah saya untuk bisa bertindak prihatin.

Balik soal 2022 ingin mencoba punya anak, kasus saya tidak sesederhana kopulasi di masa subur lalu menghasilkan embrio. Situasi kondisi toleransi mengharuskan kami melalui intervensi medis yang tidak murah. Situasi tersebut sudah saya jelaskan di:

  • Tahap 1 biaya yang dikeluarkan ± Rp.1.200.000
  • Tahap 2 biaya yang dikeluarkan ± Rp.5.000.000
  • Tahap 3 biaya yang dikeluarkan ± Rp.300.000

Semua artikel tersebut memang sengaja saya gembok untuk memastikan pembacanya adalah orang yang membutuhkan informasi bukan cuma semata cari topik diskusi (baca: gosipin gue di WAG yang ga ada gue nya  (۳ ˚Д˚)۳ ). Jika anda adalah orang yang butuh info, silakan japri, pasti saya dengan sukacita memberikan sandinya.

Balik ke SItuasi, KONdisi dan TOLeransi tadi, didapat kesimpulan bahwa ada dua pilihan :

  • inseminasi buatan berkisar di angka 14 juta atau
  • IVF alias bayi tabung. Kisaran di angka Rp.80 juta.

Jika ini saya yang dulu, pasti saya memilih yang pertama karena itu kesanggupan mengumpulkan dananya selama 6 bulan pertama di 2022. Namun saya ingin mencoba strategi berbeda. Saya tidak ingin seperti dulu yang selalu cari strategi murah meriah berakhir meratapi diri.

Akhirnya di penghujung 2021 ini iseng mengapa tidak mencoba menargetkan yang kedua? Biayanya memang jauh lebih berlipat ganda tapi keberhasilannya jauh lebih besar daripada yang pertama. Ini semacam kompensasi dari tahun 2014 yang ingin serba ngirit medit. Sekarang diupayakan yang paling bagus.

Plussss, lucu juga jika saya akhirnya berhasil punya anak melalui bayi tabung, saya bisa bilang bahwa dia itu bukan buah cinta tapi semata-mata hasil dari kerja tim medis di laboratorium Embriologi.

Bagaimana jika sampai Juni 2022 dana tak kunjung terpenuhi? Ya sudah, coba yang pertama. Bagaimana jika mencoba inseminasi buatan berakhir gagal? Jawabannya: saya baik-baik saja.

Dulu saya seperti berkompetisi dengan orang lain. Teman beranak, saya juga kudu mesti. Teman bisa S2, saya juga ingin. Teman bisnis berhasil, saya iri sambil mengasihani diri sendiri. Sekarang saya bukan seperti itu. Bahkan jika akhirnya cuma sanggup mengeluarkan Rp.14 juta dan berakhir pula mens ya saya mungkin patah hati sejenak lalu melanjutkan hidup. Mau seperti apa melanjutkan hidupnya? Tetap tanpa anak? Adopsi? Ya dipikir nanti 🙂 Hidup itu seperti meniti ular tangga bukan anak tangga. Tidak perlu memikirkan terlalu banyak langkah. Kalau melorot ya lanjutkan lagi perjalanan kocokan dadunya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s